Muhasabah Dibalik Bencana
Posted by uqbogor on October 15, 2009

Kata musibah seringkali diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa. Dan Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya. Ini menunjukkan bahwa di atas segala kekuatan ada kekuatan Allah. Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa. Lalu bertindak seenak nafsunya. Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan. Lebih jauh, setiap musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali Allah. Sebab Dialah memang Pemiliknya. Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini mengabaikan-Nya.
Namun kenyataan sejarah selalu dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang. Manusia yang berani melawan Allah. Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya. Sehingga wahyu yang Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap biasa, padahal Allah melarangnya. Harta haram dibanggakan, padahal itu harta yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.
Ini semua tentu dimurkai oleh Allah. Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia sendiri. Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’aun.
Dari sini kita belajar bahwa bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya. Dan manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan. Jangan ulangi kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan. Maka sebagai makhluk, manusia harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa independen dan menganggap dirinya mampu mengatur kehidupannya sendiri tanpa aturan dan ndang-undang Allah. Segeralah bertaubat, selamatkan kemanusiaan. Hindari mengagungkan kepentingan peribadi di atas kepentingan umum. Karena seringkalai kedzaliman terjadi karena nafsu mendahulukan kepentingan pribadi. Ingat bahwa semakin banyak kedzaliman pasti akan semakin banyak kerusakan di muka bumi. Dan semakin banyak kerusakan, kemaksiatan dan dosa-dosa pasti akan semakin mempercepat turunnya azab Allah swt.
Renungkan ayat berikut (dalam surah Al-Fajr 6-13) Allah menegaskan setelah menyebutkan tiga contoh kaum yang pernah maju dari segi peradaban dunia yaitu: kaum Aad, Tsamud dan Fir’un: Allah berfirman:
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلادِ فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
(mereka telah berbuat kerusakan di negeri mereka, maka menyebarlah kerusakan di negeri tersebut, lalu Allah timpakan adzab yang pedih atas mereka).
Memang tidak semua musibah minimpa orang-orang yang bejat. Ada juga contoh-contoh orang baik yang mendapatkan musibah. Berdasarkan ini tidak semua musibah yang menimpa harus kita pahami sebagai adzab. Setidaknya ada tiga makna di balik setiap musibah yang menimpa manusia: Pertama, bila itu menimpa sekelompok manusia yang semuanya kafir itu adalah adzab, seperti yang Allah timpakan atas kaum Adz, Tsamud dan Fir’un. Kedua, bila ia menimpa sekelompok manusia yang beriman, sebagiannya patuh sementara sebagian yang lain pendosa, itu adalah peringatan, agar tida dilanjutkan dosa-dosa tersebut. Ketiga, bila itu menimpa sekelompok kaum yang shaleh, itu ujian, untuk mencuci dosa-dosanya serta menaikkan derajatnya di dunia dan di surga. Karenanya Allah berfirman: “Wabasysyirish shaabiriin (dan berilah kabar gembira bagi mereka yang sabar).” Maksudnya bahwa syarat untuk lolos dari setiap musibah adalah sabar: sabar mentaati Allah, sabar menjauhi kemaksiatan dan sabar menjalani ujian-Nya.
Bagaimana dengan musibah dan bencana yang kerap kali terjadi di negeri kita Indonesia ini? Mari kita renungkan kembali apa dan bagaimana fenomena yang terjadi di negeri kita ini. Mulai dari tsunami Aceh yang memakan korban hingga 150ribu jiwa, gempa di Jogja dengan korban jiwa tidak kurang dari 5000, Lumpur Lapindo Brantas yang telah menenggelamkan ribuan rumah disekitarnya, bencana banjir yang menenggelamkan sawah-sawah didaerah pertanian jawa, bencana kekeringan dan kelaparan di wilayah timur Indonesia, kebakaran hutan yang bahkan asapnya sampai ke negeri tetangga, banjir banding jebolnya tanggul Situgintung yang menyeret ribuan rumah dan memakan ratusan korban jiwa, musibah kecelakaan pesawat dan tenggelamnya kapal-kapal laut yang tidak sedikit juga memakan korban, gempa-gempa yang terjadi di beberapa wilayah pulau jawa, tidak ketinggalan Jakarta sebagai kota paling metropolis di negeri ini beberapa waktu lalu diguncang gempa, sampai yg terakhir kemarin terjadi di Padang Sumatra Barat dan Jambi. Belum lagi ancaman gempa yang menurut badan meteorologi dan geofisika sangat mungkin terjadi disepanjang garis lempeng gempa pulau Sumatra dan Jawa. Semua bencana tersebut datangnya tidak terduga, pun kita berupaya keras mengantisipasi resiko kerusakan yang mungkin terjadi, Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Korban jiwa, rusaknya bangunan-bangunan kokoh dan hilangnya harta benda tidak dapat dihindari.
Sungguh dahulu negeri ini adalah negeri yang kaya dan makmur. Tanah yang subur dengan tanaman dan hasil buminya, laut yang luas dengan hasil perikanan yang melimpah, letak geografis di garis khatulistiwa yang menguntungkan negeri ini sebagai negeri beriklim tropis dengan curah hujan cukup dan langit yang cerah. Tapi lihatlah sekarang, apa yang turun dari langit berupa hujan jadi bencana, apa yang keluar dari bumi pun menjadi bencana, iklim sudah tidak lagi bersahabat, laut menenggelamkan kapal, langit menghempaskan pesawat, bumi seperti enggan dipijak. MashaAllah, Ujiankah ini? Atau peringatankah ini? Atau bahkan azabkah ini?
Apa yang mungkin Allah kehendaki bagi negeri ini? Allah berfirman dalam surat Al-A’raaf [7]: 96-100
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَأَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
Dari ayat diatas, fenomena dan tanda-tanda bencana yang terjadi sepertinya sudah sangat cocok dengan keadaan negeri kita ini. Bencana yang datangnya tidak terduga, pada malam/subuh dimana kebanyakan orang masi terlelap tidur, atau dipagi hari ketika manusia memulai hari dengan berlomba meraih keuntungan dunia. Sudah cukup rasanya prasyarat bagi Allah untuk menurunkan siksaNya. Pengingkaran dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah sudah tidak lagi sulit dijumpai di negeri ini, baik dalam kehidupan individu, keluarga, lingkungan masyarakat bahkan dalam bernegara. Sungguh azab itu tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja, maka sudah selayaknya kita tidak merasa aman dari azab Allah bila masih ada pendustaan terhadap ayat-ayat Allah yang terjadi dan kita hanya berdiam diri.
Sungguh Allah itu bagaimana prasangka hambaNya. Maka bersyukurlah kita bahwa Allah masih menurunkan azabNya sebagai indikator bahwa Allah masih memberi kita peringatan dan belum mengunci mati hati kita untuk menerima pelajaran. Semoga kita diberi kekuatan untuk dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua musibah dan bencana yang ditimpakanNya pada negeri ini, untuk kembali kepada Din-Nya hingga turunlah keberkahan Allah dari langit dan bumi. Wallahu a’lam bishshawab.