Khilafatul Muslimin

Ummul Quro Bogor

BAI’AT, Kepada siapa?

Posted by uqbogor on December 10, 2009

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa pembahasan masalah baiat merupakan pembahasan yang luas dan panjang lebar. Dibutuhkan penjelasan tentang pengertian baiat menurut istilah yang biasa dikenal, berapa macam-macamnya, apa arti sebenarnya, apa yang dimaksud dengan baiat tersebut, apa hikmah yang terkandung dengan meletakkannya di atas manhaj ini, dengan apa baiat itu wajib, atas siapa baiat diwajibkan, syarat-syarat sempurnanya baiat, serta dengan apa baiat itu rusak.[1]

Karena pembahasannya besar dan pelik sekali, maka kami akan meringkasnya pada dua permasalahan penting yang menjadikan kebingungan dan perselisihan yang dahsyat atas kaum muslimin, yaitu : “Kepada siapakah baiat itu wajib ? Apakah baiat itu boleh kepada setiap individu?”. Adapun masalah-masalah yang lain bukan di sini tempatnya untuk membahasnya.

Kami mulai pembahasan ini dengan definisi baiat secara etimologi maupun terminologi. Baiat secara bahasa ialah berjabat tangan atas terjadinya jual beli, dan untuk berjanji setia dan taat. Baiat juga mempunyai arti : janji setia dan taat. Dan kalimat “qad tabaa ya’uu ‘ala al-amri” seperti ucapanmu (mereka saling berjanji atas sesuatu perkara). Dan mempunyai arti : “shafaquu ‘alaihi” (membuat perjanjian dengannya). Kata-kata “baaya’atahu” berasal dari kata “al-baiy’u” dan “al-baiy’ah” demikian pula kata “al-tabaaya’u”. Dalam suatu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

‘ala tubaa yi’uunii ‘ala al-islami’

“Maukah kalian membaiatku di atas Islam”

Hadits di atas seperti suatu ungkapan dari suatu perjanjian. seakan-akan masing-masing dari keduanya menjual apa yang ada padanya dari saudaranya dengan memberikan ketulusan jiwa, ketaatan dan rahasianya kepada orang tersebut. Dan telah berulang-ulang penyebutan kata baiat di dalam hadits. [2]

Bai’at secara istilah (terminologi)

“Berjanji untuk taat”. Seakan-akan orang yang berbaiat memberikan perjanjian kepada amir (pimpinan)nya untuk menerima pandangan tentang masalah dirinya dan urusan-urusan kaum muslimin, tidak akan menentang sedikitpun dan selalu mentaatinya untuk melaksanakan perintah yang dibebankan atasnya baik dalam keadaan suka atau terpaksa.

Jika membaiat seorang amir dan mengikat tali perjanjian, maka manusia meletakkan tangantangan mereka pada tangannya (amir) sebagai penguat perjanjian, sehingga menyerupai perbuatan penjual dan pembeli, maka dinamakanlah baiat yaitu isim masdar dari kata baa ‘a, dan jadilah baiat secara bahasa dan secara ketetapan syari’at.[3]

Dan ba’iat itu secara syar’i maupun kebiasaan tidaklah diberikan kecuali kepada amirul mukminin dan khalifah kaum muslimin. Karena orang yang meneliti dengan cermat kenyataan yang ada baiat masyarakat kepada kepala negaranya, dia akan mendapati bahwa baiat itu terjadi untuk kepala negara[4]. Dan pokok dari pembaiatan hendaknya setelah ada musyawarah dari sebagian besar kaum muslimin dan menurut pemilihan ahlul halli wal ‘aqdi. Sedang baiat selainnya tidak dianggap sah kecuali jika mengikuti baiat mereka [5]

Banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan/membicarakan tentang baiat, baik yang berisi aturan untuk berbaiat maupun ancaman bagi yang meninggalkannya.[6] Berupa hadits-hadits yang sulit untuk menghitung maupun menelitinya. Tetapi yang disepakati ialah bahwa baiat yang terdapat di dalam hadits-hadits ialah baiat kolektif dan tidak diberikan kecuali lepada pemimpin muslim yang tinggal di bumi dan menegakkan khilafah (pemerintah) Islam sesuai dengan manhaj kenabian yang penuh dengan berkah [7]

Dibawah ini saya bawakan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang baiat secara ringkas.

I. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bejanji setia kepadamu, mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberi pahala yang besar” [Al-Fath : 10]

II. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” [Al-fath : 18]

Di dalam as-Sunnah, diantaranya.

“Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya” [Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

“Barangsiapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka putuslah ikatan yang lain tersebut” [Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]

“Artinya : Jika dibaiat dua orang khalifah maka perangilah yang terakhir dari keduanya” [Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Sa’id]

Dan banyak lagi hadits-hadits yang lainnya.

Salah seorang imam yang agung, Ahmad bin Hanbal, imam Ahlu Sunnah wal-Jama’ah ditanya tentang riwayat dari hadits kedua yang tersebut di atas. Di dalamnya terdapat kata imam. Beliau menjawab :”Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam”, maka inilah makna imam” [8]

Al-Imam Al-Qurthubi berkata [9] :”Adapun menegakkan dua atau tiga imam dalam satu masa dan dalam satu negeri, maka tidak diperbolehkan menurut ijma”

Kemudian setelah hilangnya kekhalifahan, terjadilah perbedaan yang sangat tajam tentang ayatayat dan hadits-hadits tersebut. Doktor Abdul Muta’al Muhammad Abdul Wahid mengatakan : “Ketiadaannya imam adalah menjadi sebab munculnya kelompok-kelompok yang mengklaim bahwa dirinyalah yang berhak dibaiat dan menjadi imam. Kelompok-kelompok ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang mendasar, yaitu :

1. Kelompok pertama

Mengatakan : “Sesungguhnya orang yang meninggalkan baiat adalah kafir”. Lalu mereka menetapkan kepemimpinan bagi dirinya. Sedang orang yang tidak membaiatnya adalah kafir menurut pandangan mereka. Ucapan ini tidak benar, sebab Ali bin Abi Thalib -salah seorang yang diberi kabar akan masuk surga- beliau tiadak membaiat Abu Bakar selama kurang lebih setengah tahun[10], dan tidak seorang sahabatpun yang mengatakan tentang kekafirannya selama beliau meninggalkan baiat.

2. Kelompok kedua

Mengatakan :”Sesunguhnya baiat adalah wajib, barangsiapa yang meniggalkannya berarti dosa”. Dari sinilah mereka menetapkan seorang amir bagi diri-diri mereka, sehingga gugurlah dosadosa tadi dari mereka ketika membaiatnya. Padahal yang benar adalah bahwa dosa meninggalkan baiat tidak menjadi gugur dengan cara membaiat amir tersebut. Karena baiat yang wajib dan berdosa orang yang meninggalkannya ialah baiat terhadap imam (pemimpin) muslim yang menetap di bumi dan menegakkan khhilafah Islamiyyah dengan syarat-syarat yang benar [11]

3. Kelompok ketiga adalah mereka (kaum muslimin) yang tidak membaiat seorangpun Mereka mengatakan : “Sesungguhnya meninggalkan baiat adalah berdosa, tetapi baiat adalah hak seorang pemimpin muslim yang tinggal di bumi (walau) kenyataannya tidak ada di masa sekarang”.

Dan diantara hal yang menguatkan kebatilan baiat-baiat istitsnaiyyah (pengecualian) yang merupakan perkara baru tentang baiat kepada Amirul Mukminin -walaupun di kala tidak ada Amirul Mukminin- terdapat dalam keterangan para ulama rahimahullah, yaitu disyariatkan dalam baiat berkumpulnya Ahlul Halli wal Aqdi, lalu mereka membentuk keimanan bagi seorang yang memenuhi syarat-syaratnya [12]

KESIMPULAN DAN TARJIH

Jadi yang dimaksud dengan baiat ialah, pemberian janji dari pihak pembaiat untuk mendengar dan taat kepada amir, baik di kala senang atau terpaksa di masa mudah atau sulit, tidak menentang perintahnya dan menyerahkan segala urusan kepadanya. [13]

PERINGATAN

Dari keterangan yang telah lewat, kita mendapatkan dua perkara yang penting, yaitu :

1. Baiat tidak ada kecuali kepada Amirul Mukminin saja.

2. Ketaatan (kepada Amirul Mukminin) muncul dari baiat yang hanya diberikan kepadanya saja.

Oleh karena itu batallah[14] semua baiat yang diberikan kepada seseorang (bukan Amirul Mukminin) bagaimanapun bentuknya, baik ketika ada imam atau tidak ada, ada seorang atau lebih.

Pada hakekatnya dasar pemikiran baiat yang dimiliki sebagian jama’ah-jama’ah Islam pada prinsipnya sesuai dengan syari’at Islam, karena mereka mengatakan di dalamnya : “Hendaknya kita berjanji setia kepada Allah untuk menjadi tentara dalam berdakwah kepada Islam dan di dalam baiat tersebut terdapat kehidupan negeri dan umat”[15] Padahal ini adalah perjanjian yang diambil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua kaum muslimin.

Kemudian terjadilah sedikit “perkembangan” pemikiran dan organisasi pada orang-orang yang memberlakukan baiat terhadap diri-diri mereka, sehingga terjadilah kelompok/jamaah ikhwan membaiat pemimpin umum (al-mursid al-aam) sebagai orang yang dipercaya penuh dan didengar serta ditaati ketika suka atau terpaksa, sampai Allah memenangkan dakwahnya dan mengembalikan kemualiaan Islam.[16] Kalau demikian terjadi keterjungkilbalikan dan kesalahan.

Sebagai buktinya diantara sistem kerja anggota baiat adalah taat baik di kala susah atau mudah, terpaksa atau suka kepada kepemimpinan yang muncul dari aturan-aturan yang dipegangi oleh jama’ah.[17]

Dua keterangan terakhir ini menjelaskan dengan gamblang bahwa baiat istitsnaiyyah yang tanpa dalil tersebut, tidak berbeda sedikitpun dengan baiat terhadap Amirul Mukminin. Tidak sebagaimana yang disangka oleh “sebagian orang” bahwa baiat tersebut hanya “sekedar janji”[18] belaka !

Sebagai penambah keautentikan penjelasan tersebut ialah bahwa para pengikut Asy-Syaikh Hasan Al-Bana Rahimahullah menamainya dengan “Al-Imam”. Padahal penamaan ini [19] hanya bisa diperuntukkan bagi orang yang benar-benar imam. Karena diketahui bahwa al ustadz Hasan Al-Banna tidak menyukai kepemimpinan dan mengetahui pula bahwa cinta lepada kepemimpinan dengan tujuan mencari kekuasaan mengakibatkan kejelekan bagi kaum muslimin pada sejarah mereka yang panjang, maka dia (Hasan Al-Banna -ed) menamai dirinya dengan mursyid dan tidak suka untuk menjadi pemimpin atau amir[20]

Karena semua itulah sebagian penulis mengatakan : “Sesungguhnya baiat yang diberikan kepada suatu jama’ah, tidaklah sama dengan baiat yang diberikan kepada Amirul Mukminin ketika tegak khilafah atau penguasa muslim. Karena dengan baiat tersebut perintah seorang penguasa menjadi wajib untuk ditaati, sampai pada masalah-masalah yang mudah jika terdapat kemaslahatan di dalamnya. Adapun baiat yang terdapat pada Ikhwan al-Muslimin (dan katakan seperti itu juga pada jama’ah-jama’ah Islam lainnya), maka tidak mempunyai sifat yang mewajibkan (untuk taat, -ed) dari sisi fikih” [21]

Untuk menjawab perkataan ini dari beberapa sisi.

1. Tidak terdapat dalil atas pemisahan (baiat) ini dalam Al-Kitab dan As-Sunah.

2. Sebelumnya telah saya nukilkan teks-teks dari ucapan Asy-Syaikh Hasan Al-Banna dan lainnya, dan tidak terdapat isyarat yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan di dalamnya terdapat isyarat kepada khilafah, tatkala menyebutkan “ketaatan yang mutlak”!!

3. Penelitian terhadap keberadaan jama’ah-jama’ah Islam dan tingkah para pemimpin serta anggotanya, berlawanan dengan pernyataan di atas. [22]

Jika anda heran wahai saudaraku pembaca, maka lebih mengherankan lagi ucapan orang yang membantah ini yang menyatakan bahwa baiat tersebut tidak mempunyai sifat yang mewajibkan (untuk taat). Maka ucapan ini berarti membatalkan semua baiat dari akarnya. Hal ini diketahui dengan menjawab dua pertanyaan berikut ini.

1. Jika baiat tidak membuat adanya suatu kewajiban (untuk taat), lalu apa faedahnya ?

2. Apakah di dalam syariat Islam ada amalan yang tidak ada faedahnya ?

Orang yang mencari dan memperhatikan, kritis dan jeli akan mengetahui jawabannya !

KESIMPULAN PEMBAHASAN DAN BEBERAPA TAMBAHAN

1. Baiat dengan berbagai macamnya tidak diberikan kecuali kepada khalifah kaum muslimin yang melaksananakan hukum-hukum dan menetapkan hukum had.

2. Mendengar dan taat tidak ada kecuali bagi orang yang Allah memberikan perintah untuk menaatinya. Dan yang menjadi fokus pembahasan kita di sini adalah Amirul Mukmin saja! [23]

3. Disebabkan oleh perbedaan kaum muslimin sekarang ini dalam memahami baiat dan tidak sepakatnya mereka di atas pemahaman yang syar’i dan benar tentang baiat, maka mereka saling bermusuhan, berpecah belah dan bersilang pendapat. Suatu kondisi yang akan menimbulkan penyimpangan di dalam beramal bersama hukum-hukum fikih. Begitu pula anggapan bahwa mereka adalah jama’atul muslimin, dapat menimbulkan kerusakan dan menghukumi kaum muslimin di luar lingkup mereka dengan hukum – hukum yang justru akan menjauhkan mereka dengan risalah yang sesunguhnya, karena celah-celah dakwah kepada Allah telah terkunci.[24] Bukti semua itu (sebagai contoh) bahwa di New York saja terdapat lebih dari empat puluh kelompok yang menyeru kepada Islam, akan tetapi setiap jama’ah menyeru kepada Islam yang berbeda seruan Islamnya dengan yang lain. [25]

Atas dasar itulah, wajib bagi kita untuk benar-benar meyakini bahwa gejala munculnya banyak kelompok di dalam pergerakan Islam tidak mungkin dianggap sebagai gejala yang sehat, karena efeknya bagi perkembangan Islam negatif dan buruk. Sedang akibatnya akan menimbulkan kesulitan di antara para aktifis serta menyibukkan mereka sendiri yaitu ketika menghadapi gugurnya sebagian anggota dakwah dan beban-beban yang lainnya.[26] Maka kenyataan yang dapat disaksikan bahwa keadaan para da’i pada masa sekarang ini adalah hasil dari perpecahan yang tajam dan menyakitkan ini, suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Bahkan suatu keadaan yang sangat menyedihkan yang tidak boleh terus berlarut-larut keadaannya. Dan setiap muslim bertanggung jawab untuk mengobati gejala ini, agar kaum muslimin kembali sebagaimana sebelumnya yaitu sebagai umat terbaik yang dikeluarkan bagi mausia dan agar agama ini semuanya hanya untuk Allah. [27]

Tidak hanya dalam satu ayat saja dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala terdapat perintah untuk bersatu dan bermufakat serta larangan untuk berselisih dan berpecah belah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” [Ali-Imran : 105]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 153]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesunguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [Al-Anfal : 46]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tipa golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka” [Al-Mukminun : 53]

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mulia[28], yang menerangkan dengan tegas tentang tidak bolehnya kaum muslimin berpecah belah di dalam agama mereka menjadi kelompok kelompok dan hizb-hizb yang saling melaknat sebagian atas sebagian yang lain dan saling memerangi sebagian atas sebagian yang lain. Karena sesungguhnya perpecahan ini adalah termasuk perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah mencela orang yang mengada-adakannya atau mengikuti ahlinya, serta memberi ancaman bagi pelakunya dengan siksa yang pedih.. [29]

1 Bahjah an-Nufus Syarh Mukhtasha r al-Bukhari (I/28), Ibnu Abi Jamrah

2 Lisanul Arab al -Muhith (I/299) dan an -Nihayah (I/174)

3 Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal.299

4 Al-Ushul Fikriyyah li al -Tsaqafah al-Islamiyah (2/73) dan Qawaid Nizham al -Hukmi (262), keduanya tulisan al-Kahlidi

5 Al-Khilafah … hal.13. Rasyid Ridha

6 Lihat Hayah as -Shahabah (I/28 -239) dan Miftah Kunuz al -Sunnah, hal. 80 -86, dan lain-lain

7 Al-Furqan baina al -Kufri wa al-Iman, hal.63, Abdul Muta’al Muhammad Abdul Wahid

8 Masa’il al-Imam Ahmad (2/185) riwayat Ibnu Hani’

9 Al-Jami’ li Ahkam Al -Qur’an (I/273). Dan lihat syarh an -Nawawi atas shahih al -Bukhari (12/231)

10 Dan ini tidak benar secara mutlak, lihat perinciannya dalam kitab Tahdzir Al -Abqari min Muhadharat al – Khudhari (I/198) karya Al -Syaikh Muhammad al -Arabi al-Tibyani

11 Walaupun dia (khilafah) berlaku zhalim. Dan ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebagaimana dalam kitab Syarh ‘Aqidah al -Thahawiyyah, hal.379

12 Maatsirul Anafa h fi Ma’alim al -Khilafah (I/39) al -Qalqasynadi

13 An-Nizham as-Siyasi fi al-Islam, hal.299-300, Abdul Qadir Ani Haris

14 Maka wajib bagi orang yang terkungkung dengan baiat -baiat bid’ah seperti ini untuk meninggalkan dan mebatalkannya. Karena baiat tersebut batil. Selain demi menjaga agama dan untuk mengikutinya.

15 Mudzakirat al -Da’wah wa al -Daiyyah, hal, 72 Hasan al -Banna. Dan lihat pembahasan selanjutnya, hal.35

16 Idem, hal.194. Doktor Zakariya Sulaiman Biyumi berkata di dalam kitabnya AL-Ikhwan al Muslimin wa al- Jama’at al-Islamiyah hal.75 : “Dan al -Banna pada masalah tersebut terpengaruh pada kitab –kitab Thariqah al – Hashafiyyah yang pada tahapan -tahapannya akan memindahkan seorang pengikut menjadi pemabiat …” dan seterusnya. Dan lihat penagruh Thariqat a l-Hashafiyyah pada pribadi Hasan al -Banna dan dakwahnya di dalam At-Tafsir as-Siyasi li al-Islam, hal.130 oleh An -Nadwi

17 Al-Madkhal ila Da’wah al -Ikhwan al-Muslimin, hal.123. Sa’id Hawa

18 Akan datang bantahannya disertai penjelasan pertentangan orang yang mengucapkan perkataan tersebut, Inys Allah Ta’ala.

19 Jangan sampai ada orang yang mengatakan : ‘Tidak lain yang dimaksud oleh mereka adalah imam di bidang ilmu, dengan bukti kualitas keilmuannya di dalam karangan -karangan dan kitab -kitabnya. Dan apa yang diucapkan sendiri tentang pribadinya di dalam Al-Mudzakkirat , hal.65.

20 Fiqh al-Da’wah al-Islamiyah …” hal, 23. oleh Al -Ghazali. Dan lihat apa yang diceritakan sendiri oleh Hasan al – Banna di dalam Al -Mudzakkirat, hal. 114 -115, tentang apa yang dilakukan oleh ornag yang mempunyai kedudukan dan keamiran.

21 Al-Ijabaat, hal.87. Sa’id Hawwa. Padanya banyak sekali pertentangan di dalam masalah baiat bila dibandingkan karangannya Tarbiyatuna al -Ruhiyyah, hal.243 -245

22 Lihat al-Jama’at al-Islamiyyah fi Dhaul al -Kitab wa al-Sunnah, hal.100-108, Salim Al -Hilali

23 Didalamnya terdapat isyarat untuk taat kepada kedua orang tua, ulama dan lain sebagainya. Dan bukan disini pembahasannya.

24 Fiqh al-Da’wah al-Islamiyyah, hal.22 Muhammad al -Ghozali

25 Al-Syura fi Dzili Nidzo m al-Hukmu al -Islami, hal.33 Abdurrahman Abdul Khaliq

26 Al-Mustaqitun fi Thariq al -Da’wah, hal.126 Fathi Yakan. Di dalamnya banyak sekali kesalahan, terutama judulnya

27 Manhaj al -Anbiya fi al -Dakwah Ilallah (I/128) Muhammad Surur Zaenal Abidin

28 Lihat al-Dustur al-Qur’ani wa al-Sunnah al-Nabwiyyah fi syu’uni al -Hayah (2/26, 314), Muhammad Izzah Druzah

29 Fatwa nomor 1674, Lajnah Ad -Da’imah li al-Buhuts al-Ilmiyya wa al -ifta, dengan ketua al -Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Di dalamnya terdapat pembaha san tentang haramnya berpecah belah dan hizbiyyah.

Posted in Kajian Utama | 4 Comments »

FIRQOH-FIRQOH

Posted by uqbogor on November 18, 2009

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًالَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah diennya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sekalipun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al-An’am :159)

 

Tujuan kita memilih Islam sebagai Ad-Dien tidak lain dalam rangka mencari keselamatan dunia dan akhirat. Siapapun orangnya yang meyakini adanya kematian pasti menginginkan keselamatan akhirat. Dimaksudkan, bahwa kelak di hari kemudian kita ingin hidup di bawah ridho Allah, surga sebagai balasannya, secara naluri setiap orang ada indikasi untuk menempuh hal tersebut.

Namun keselamatan di akhirat tak semudah apa yang kita bayangkan. Hal ini banyak ditentukan oleh amal dan tingkah laku selama hidup di dunia. Dalam banyak hal, kita terlibat atau melibatkan diri dengan kehidupan jam’iyah (bermasyarakat) sebagai konsekwensi hidup dalam interaksi sesama makhluk Allah. Seiring dengan perjalanan tata nilai kehidupan, kita telah belajar hidup berorganisasi (berjama’ah) karena memang tiada manusia yang pandai dan hidup seorang diri, yang tidak tergantung, dan tidak terpengaruh atau memerlukan sesuatu di luar pribadinya. Rasulullah bersabda, “Maka bahwasannya yang hidup (lama) di antaramu sesudahku (Nabi) niscaya akan melihat perpecahan dan perselisihan yang banyak. Maka oleh karena itu, berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafaaurrasyidin yang diberi hidayah. Berpegang teguhlah dan gigitlah dengan gerahammu.” (HR.Abu Daud)

Hadist di atas memberikan kabar kepada kita bahwa akan terjadi perpecahan yang banyak. Tentunya perpecahan itu satu hal yang tidak dikehendaki dalam Islam dan suatu kefatalan bagi kemenangan Islam, maka dari kesekian perpecahan yang terjadi, siapakah yang benar dan selamat? Rasulullah menandaskan “adalah orang-orang yang berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya khulafaaurasyidin yang mendapat petunjuk (hidayah).

Di hadist lain Rasulullah bersabda, “Dari Huraiah r.a. berkata : Rasulullah bersabda : telah berfirqoh-firqoh orang Yahudi menjadi 71 firqoh dan orang Nasrani seperti itu pula dan akan berfirqoh-firqoh ummatku menjadi 73 firqoh.” (HR. Thirmidzi). Sabda Rasulullah : “Bahwasanya bani Israil berfirqoh-firqoh sebanyak 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu…. Para sahabat bertanya, “siapakah yang satu itu yaa Rasulullah? Rasul menjawab : “yang satu itu adalah apa-apa yang ada padaku dan pada sahabatku.” (HR. Thirmidzi)

Dari hadist di atas kita dapat mengambil kesimpulan : Pertama. Sabda Rasul tersebut pasti benar sehingga ummat Islam tidak perlu ragu lagi apabila hal tersebut terbukti pada zaman sekarang ini. Kedua. Bahwa kelompok/golongan/millah yang selamat dan akan masuk surga atau kelompok Al-Haq adalah yang memenuhi persyaratan : (1) Berpegang teguh pada sunnah Nabi, (2) Berpegang teguh kepada sunnah Khulaafaurrasyidin, (3) Berjama’ah.

Sewajarnyalah kita perlu hati-hati dan teliti, agar langkah dan amal kita tidak sia-sia. Apakah yang kita perbuat di hari ini dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan di hadapan manusia/anggota suatu jama’ah dengan hujjah berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasul. Kalau tidak, kita akan rugi di dunia dan di akhirat. Kondisi hari ini sangat memprihatinkan bagi keutuhan ummat Islam. Sudahkah kita memahami secara bayyinat arti dari berpegang teguh pada sunnah Nabi? Sejauh mana kita paham akan batas-batas sunnah khulaafaurrasyidin? Dan bagaimana realisasi amal berjama’ah dalam Islam?

CIRI-CIRI FIRQOH

Uraian ini tidak dimaksudkan menyinggung kondisi yang ada, tidak bermaksud menafikkan harokah Islamiyah yang dewasa ini menjamur. Tak bermaksud pula mentakfirkan jama’ah yang ada. Namun bila ada salah satu cirri yang menyinggung harokah tertentu, justru seharusnya dijadikan cambuk untuk menata kebenaran, sebab  kebenaran itu adalah satu, dan jika kita sama-sama benar pasti bersatu. Namun dalam kenyataannya kenapa ummat Islam dewasa ini tidak bersatu dalam satu kebenaran, bendera kebenaran Tauhidullah? Marilah kita sadari dan insyaf, mari kita mulai dari yang benar, hingga kita akan menghasilkan nilai-nilai kebenaran tersebut terutama di sisi Allah SWT. Simaklah sabda Rasul SAW : “Jama’ah itu Rahmat dan Firqoh itu Adzab.” Ciri-ciri yang menonjol dari firqoh ini adalah :

  • Firqoh hanya mengamalkan sebagian ajaran Islam dan sebagian ajaran Islam lainnya ditinggalkan/dilupakan. Celakanya malah kebenaran secara sengaja mereka tutupi atau ditalbiskan (disamarkan) misalnya satu organisasi yang hanya bergerak di bidang pendidikan saja tanpa meletakkan pendidikan itu di atas kebenaran. Mendahulukan AD/ART yang dibuat sendiri dan mengabaikan dasar-dasar Al-Quran dan Sunnah Rasul. “Hai orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujarat : 1)
  • Nasionalisme dan fanatik ashobiyah satu pergerakan yang berazaskan kebangsaan dan nasional belaka. Bangga dengan golongannya sendiri dan tidak bangga terhadap kebenaran Islam. “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya, dan bertaqwa kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Yaitu orang-orang yang memecah belah Dien mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum:31-32)
  • Rela bernaung di bawah penguasa thogut, seperti mentolerir adanya yayasan, lembaga, partai-partai dsb.

ISLAM DAN JAMAAH

Rasulullah bersabda, “Dari Al-Haritsil Asy’Arir telah berkata : telah bersabda Rasulullah SAW : “Aku perintahkan kepadamu dengan lima perkara, sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan kepadaku dengan lima perkara itu pula, yaitu : dengan jama’ah, dengan mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi’sabilillah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jama’ah barang sejengkal, maka sungguh dia telah melepaskan tali ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (taubat), dan barang siapa menyeru dengan seruan jahiliyah, maka dia bertekuk lutut dalam neraka jahanam.” Sahabat bertanya : yaa Rasulullah sekalipun dia shaum dan dia sholat? Jawab Rasulullah SAW : “Sekalipun dia shaum dan dia sholat, dan sekalipun dia mengaku muslim maka serulah orang-orang Islam itu dengan nama mereka, yaitu : Al-Muslimin, Al-Mu’minin, hamba-hamba Allah Azza wa Jalla.” (HR Ahmad dan Thirmidzi) “Maka barang siapa yang keluar dari jamaah barang sejengkal saja, maka sungguh ia telah melepaskan Islam dari kuduknya.” Maka jelaslah bahwa keluar dari jama’ah berarti keluar dari Islam. Jama’ah mana yang dimaksud?

CIRI-CIRI JAMA’ATUL HAQ

Kebenaran itu hanya satu, jika kita sama-sama benar (haq) pasti akan bersatu. Maka dengan ciri-ciri jama’atul haq ini kita berusaha meluruskan niat dan amalan, bukankah setiap amal kita nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah? Termasuk nilai kebenaran suatu jama’ah juga mesti ada satu dan ini memiliki dasar yang kuat secara qoth’I dalam Al-Quran dan hadist-hadist yang shohih.

Jama’ah ini tidak berkuasa dengan penguasa thogut dalam bentuk apapun. Sikap hijrah adalah satu-satunya sifat atau langkah yang diamalkan oleh Rasulullah. Sikap hijrah lebih luas makna dan aspeknya dalam menata perjalanan jama’ah ini. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah:218)

Firqoh berasal dari kata faraqa – yafruku – firqatan, faraqa – yafruku – firqatan, yang artinya berbeda, berselisih, berpecah-belah. Adapun dari sisi istilah berfirqoh berarti terpecahnya ummat Islam menjadi beberapa golongan dalam mengemban amanat dien mereka, sehingga dalam membawa ajaran Islam bersifat sektarian/parsial, tidak lagi universal/global yakni tidak “Rahmatan lil alamin.” Sehingga akan bernilaikan ashobiyah/fanatisme golongan.

Lawan dari firqoh adalah jama’ah, yang berasal dari akar kata jamaa – yaj’mau – jama’atan yang bermakna berkumpul, bersatu. Sedangkan dari sisi istilah, berjamaah itu merupakan wadah bagi kehidupan bersama seluruh kaum muslimin/muslimat di muka bumi untuk melaksanakan ajaran-Nya di bawah kepemimpinan seorang kholifah/amirul mu’minin sebagai system kepemimpinan-Nya. Jadi pada prinsipnya berjama’ah adalah mempersatukan ummat Islam dalam suatu wadah kesatuan di bawah satu kepemimpinan ummat Islam yang disebut Ulil Amri Minkum, yakni kholifah/amirul mu’minin.

Mungkinkah Islam tegak apabila penganut-penganutnya berpecah belah (berfirqoh-firqoh)? Suatu ajaran tidak akan mungkin bisa tegak bila pengantu-penganutnya berpecah belah (berfirqoh-firqoh). Ini berlaku terhadap semua ajaran, baik ajaran yang tumbuh dari bumi (yang diciptakan manusia), seperti paham komunis, kapitalis, nasionalis dan lain sebagainya, begitu juga dengan Islam, ajaran yang datangnya dari Allah SWT.

Ajaran komunis, nasionalis, Hindu, Nasrani dan ajaran Islam itu sendiri bersifat universal, tidak akan mungkin bisa tegak apabila penganut ajaran itu sendiri hidupnya berpecah-belah (berfirqoh) menjadi bermacam-macam kepemimpinan namun tidak ada kepemimpinan yang satu. Fakta sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan kaum muslimin di masa lampau tidak lain karena kaum muslimin masih mampu mempersatukan dan mempertahankan keutuhan ummat di bawah satu sistem kepemimpinan ummat Islam yakni Khilafah Islamiyah dengan membuktikan sam’an wa tho’atan kepada Ulil Amri mereka yakni khalifah/amirul mu’minin. Kemunduran dan kehancuran kaum muslimin disebabkan ketidakmampuan mempertahankan sistem kekhalifahan sebagai alat untuk mempersatuka kaum muslimin, sehingga kaum muslim menjadi terpecah-belah dalam sekat-sekat bangsa, golongan/kelompok, dimana tiap-tiap bangsa/golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada bangsa/golongannya masing-masing, dan bukan lagi bangga terhadap keislamannya. Sehingga otomatis pembelaannya akan diprioritaskan kepada bangsanya daripada Islamnya.

Perjalanan sejarah moderen ini memberikan fakta sejarah yang sangat ironis sekali bagi kehidupan kaum muslimin, dimana bangsa muslim Pakistan tega-teganya bekerjasama dengan orang kafir Amerika dalam rangka memerangi saudara sendiri bangsa muslim Afghanistan. Hal ini disebabkan adanya sekat-sekat kebangsaan sehingga sebagian kaum muslimin akan lebih membela bangsanya daripada membela Islamnya. Begitu pula yang terjadi pada perang antara Iraq dan Amerika, dimana bangsa muslim Kuwait memberikan fasilitas kepada orang kafir Amerika dalam rangka membunuh saudaranya sendiri yakni bangsa muslim Irak. Mengapa? Padahal sama-sama bangsa muslim, ini karena adanya sekat kebangsaan dan sistem nasionalisme, dimana golongan yang satu saling menyudutkan golongan Islam yang lain. Kelompok yang satu dengan tega melontarkan tuduhan seram kepada saudaranya sendiri hanya karena berbeda golongan/kelompok. Sampai kapankah fenomena ini harus terus berlanjut? Bukankah para ustad, para muballiq, dan ulama-ulama sering menyerukan agar ummat Islam bersatu, terlebih lagi Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar ummat Islam bersatu supaya ajaran ini bisa tegak.

Fenomena ini bisa diminimalisir seandainya ummat Islam berada dalam sebuah sistem kepemimpinan Islam secara universal yakni Kekhalifahan Islam yang senantiasa berada dalam komando seorang Khalifah baik dalam keadaan masih lemah sampai mempunyai kekuatan.

Dalam surat 42:13 Allah dengan tegas memerintahkan agar dien (ajaran Islam) ditegakkan dan larangan untuk berpecah-belah (berfirqoh) karena hanya orang-orang musyriklah yang senang berfirqoh-firqoh. “Tegakkanlah Dien (agama) dan janganlah berpecah-belah tentangnya, amat berat bagi orang-orang musryik Dien yang kamu seru mereka kepada-Nya…”

Allah mengancam dengan ancaman yang sangat keras berkaitan dengan larangan untuk tidak berpecah-belah (berfirqoh-firqoh) dalam menegakkan ajarannya. Akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini sebagai akibat dari fenomena ummat Islam yang berpecah-belah (berfirqoh) “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, jika kamu (hai para kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS 8:73) Begitu pula dalam QS 6:65, “Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirim azab kepadamu, dari atas kamu atu dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan)dan merasakan pada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain, perhatikanlah betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahaminya.”

Di dalam ayat-ayat lain Allah juga memerintahkan agar ummat Islam bersatu dan jangan berpecah-belah/berfirqoh-firqoh (periksa QS 3:103-105, QS 30:31, QS 6:159 dst). Imam Ahmad dalam hadistnya melalui Zakaria bin Salam meriwayatkan Nabi Muhammad bersabda : “Wahai manusia, diwajibkan atas kamu berjama’ah (bersatu) dan dilarang kamu berfirqoh (berpecah-belah).” Melalui alur lain Imam Ahmad juga memaparkan sabda Rasulullah SAW : “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.”

Kesimpulan dari pemaparan di atas sudah jelas, bahwa baju firqoh tidak relevan bagi ummat Islam, sehingga  seharusnya kaum muslimin sekarang ini sudah mulai melepas baju firqoh dan menggantinya dengan baju jama’ah yang sesuai dengan ukurannya agar rahmat Allah sampai kepada kaum muslimin dan izzatul Islam wal muslimin bisa digapai. Kaum muslimin seharusnya sudah tidak perlu lagi menumbuh-suburkan perpecahan/firqoh, sehingga di antara kaum muslimin dan anak cucunya beranggapan bahwa Islam itu seperti bangsa ini, partai itu, ormas anu, dst. Yang perlu kita tanamkan adalah Islam sebagaimana yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah, seperti sistem kenabian ketika Nabi masih hidup dan sistem Kekhalifahan Islam setelah wafatnya Rasulullah sampai hari kiamat.

Posted in Buletin Al-Khilafah, Kajian Utama | 4 Comments »

GHAZWUL FIKRI

Posted by uqbogor on November 14, 2009

PerangSalib

 

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (Ash Shaff : 8).

Secara harfiah, Al ghazwu Al fikri (GF) mempunyai makna perang pemikiran, perang intelektual, atau invasi pemikiran. Dalam makna yang lebih luas berkaitan dengan kaum muslimin, GF mempunyai makna: “Perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam dalam rangka menghancurkan ummat Islam beserta Aqidahnya dengan tidak melalui perang konvensional tapi melalui perang pemikiran / invasi pemikiran”.
Senjata-senjata GF ini meliputi segala sarana/media yang dapat mereka gunakan seperti media massa media cetak, media elektronik, pendidikan, LSM-LSM, buku-buku, lembaga pemerintahan dan sebagainya.
Senjata-senjata GF ini bagi kaum muslimin lebih berbahaya dari senjata M-16, pesawat tempur atau tank baja, karena sasaran yang akan dihancurkan adalah Aqidahnya. Sedangkan sasaran senjata konvensional yang akan dihancurkan hanyalah tubuh/fisiknya. Kaum muslimin yang terkena sasaran peluru GF ini memang tubuhnya tidak ada yang luka dan tidak mati secara fisik, bahkan tubuh mereka segar bugar dan terkadang hidupnya bergelimang dengan harta dan kursi kedudukan. Namun yang hancur dan mati disini adalah Aqidahnya. Kalau yang terkena peluru GF ini seorang tokoh muslimin atau orang-orang yang berpengaruh dikalangan ummat, maka penyakit ummat akan ditularkan dan disebarluaskan kepada pengikut-pengikutnya atau kepada orang lain sehingga orang lain pun akan ikut hancur pula aqidahnya. Seorang muslim yang terkena peluru GF, maka akan lenyap roh syahadatain dari dirinya. Sebagai gantinya, mengalirlah roh-roh yang tidak di ridhoi Allah seperti komunis, nasionalis, kapitalis, dan sebagainya. Yang seharusnya mereka memperjuangkan tegaknya “Lailahaillallah MuhamadurRosulullah”, alih-alih malah mereka siap berjuang dengan nyawanya demi tegaknya system komunis, nasionalis, kapitalis dan lain sebagainya.
Nasib kaum muslimin yang terkena peluru GF dihadapan Allah sangat ironis sekali. Bandingkan, kaum muslimin yang terkena peluru tank baja/M16 kemudian mati, mereka masih ada harapan surga asal syahid dalam ridho Allah (QS 3:169 dan 2:154). Namun bagi kaum muslimin yang terkena “peluru-peluru GF” kemudian mereka mati, sulit untuk bisa meraih surga, karena mereka telah sanggup untuk menyerahkan jiwa dan raganya demi system-sistem selain system yang diridhoi Allah Swt. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam firmanNya QS. 37:22-23,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ

“(Kepada Malaikat) kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukanlah mereka jalan ke neraka”.

Perjalanan historis Ghazwul Fikri

Ghazwul Fikri sebenarnya telah ada sejak jaman Rosulullah dimana tokohnya adalah seorang munafik yang sudah tidak asing lagi yakni Abullah bin Ubay bin Salul. Dia dan anak buahnya tak henti-hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah dengan secara terselubung menyebarkan bibit kebencian diantara kaum muslimin. Menurut DR. Anwar al Jumdi, setelah Abdullah bin Ubay, tokoh-tokoh GF ini adalah Abdullah bin Saba’ dan Abdullah bin Muqaffa serta kaum Zindiq.
Dalam perjalanan sejarah kontemporer, langkah-langkah GF ini dilakukan oleh orang-orang kafir khususnya Yhudi dan Nasrani, terutama setelah mereka gagal menaklukan dunia Islam melalui perang konvensional dalam perang salib ke-VII. Hal ini menimbulkan kesadaran baru bagi mereka bahwa penaklukan terhadap dunia Islam bukan dengan cara perang fisik atau invasi militer tapi dengan cara perang pemikiran, invasi pemikiran.
Orang yang pertama kali menyadari akan langkah-langkah ini adalah panglima perang salib ke-VII itu sendiri yakni Louis XIV Raja Perancis. Saat ia tertawan oleh pasukan kaum muslimin pada perang salib ke-VII di Al Masyuriyah pada tahun 647H/1250M, dalam memorinya ia menulis catatan yang berbunyi: “setelah memlaui perjalanan panjang segalanya telah menjadi jelas bagi kita kehancuran kaum muslimin dengan jalan perang konvensional adalah mustahil karena mereka memiliki manhaj yang jelas, yang tegak diatas konsep Jihad fi Sabilillah. Dengan manhaj ini mereka tidak akan pernah mengalami kekalahan militer”.
Karena itu, barat menempuh jalan lain. Bukan langkah-langkah militer tapi memerangi idiologinya dengan jalan mencabut akar manhaj ini dan mengosongkannya dari kekuatan, kenekatan dan keberanian. Caranya tidak lain dengan menghancurkan konsep-konsep dasar Islam dengan berbagai Takwil dan Tasykik.
Zwemer, seorang Nasrani mantan Yahudi mengingatkan kecilnya kemungkinan untuk bisa menghancurkan ajaran Islam secra totalitas, maka ia memberikan ancang-ancang target dengan pernyataannya sebagai berikut: ”Tujuan kita bukanlah mengkristenkan ummat Islam, target kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari ajarannya ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita”.

Seorang arsitek penghancur Islam dari Belanda bernama Snouck Hurgronye dalam menghancurkan Islam melalui GF diantara poin-poinnya ia menyebutkan:
– Pisahkan ummat Islam dari ajarannya dengan strategi pendidikan yang terencana.
– Tumbuhkan perpecahan dalam tubuh ummat Islam.

Begitu pula seorang tokoh Yahudi Swiss bernama Theodore Hertzl pada tahun 1897 di Basel, dia berbicara dalam kongres Zionis I ”50 tahun lagi Negara Yahudi yang bernama Israil harus berdiri diatas kuil Sulaiman, dan kekhalifahan Islam harus hancur”. 50 tahun kemudian melalui PBB, legitimasi atas negara Israel dimulai pada tanggal 29 November 1947. Dengan keluarnya resolusi PBB yang mengakhiri mandat Inggris atas Palestina dan membagi Palestina menjadi dua bagian yaitu untuk Yahudi dan untuk Arab, negara Israel sebagai negara Yahudi diproklamirkan pada hari jumát sore tanggal 14 Mei 1948 dengan tidak mengalami kesulitan sama sekali. Karena memang sudah menjadi konspirasi jahat antara kaum Zionist dan kaum Salibis dalam menghancurkan ummat Islam. Dengan berdirinya negara Israel Yahudi dan Palestina, akan terseret negara-negara Arab dalam perpecahan dengan prinsip Nasionalisme nya.
Kepemimpinan ummat Islam didunia ini dihapus oleh Mustapha Kemal Pasha melalui dewan nasionalnya pada tanggal 3 Maret 1924 sebagai perpanjangan tangan Yahudi dalam konspirasi kaum Zionist dan Salibis. Dalam perjalanan sejarah kontemporer GF sampai saat ini telah berjalan dalam rentang waktu hampir 800 tahun lamanya, dan ternyata langkah-langkah ini lebih berhasil daripada perang konvensional atau langkah-langkah militer.

Ummat Islam saat ini, kondisinya betul-betul sangat memprihatinkan, telah banyak hancur Aqidahnya, banyak yang tidak betul-betul paham dengan ajaranNya, hanya faham soal shalat sampai Haji, atau dengan kata lain, Islam sebagai ajaran ritual seremonial belaka.
Kalau seseorang sudah melaksanakan shalat dengan khusyuk, telah mengeluarkan zakat dan telah melaksanakan Haji, biarpun pemimpinnya thaugut dan berjalan melalui metode-metode perjuangan thaugut maka dia tetap akan merasa bahwa ibadahnya telah sempurna. Perasaan yang demikian digambarkan Allah dalam firmanNya (QS. 43:36-37),

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌوَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

”Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang maha pemurah (al Qurán) kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang akan menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang bahwa mereka mendapat petunjuk”.

Dua poin penting yang menjadi sasaran GF yang pertama yaitu menjauhkan ummat Islam dari ajaran-ajarannya, dan yang kedua yakni menghancurkan persatuan ummat Islam (dengan menghancurkan sistem Khilafah), sehingga ummat Islam akan hidup dalam sekat-sekat golongan, kebangsaan dan lain-lain. Dengan adanya sekat-sekat ini ummat Islam akan lebih mengedepankan sekatnya, lebih mengedepankan pembelaan terhadap golongan dan bangsanya daripada pembelaan terhadap Islamnya.
Fenomena ini telah terjadi dimana-mana. Ummat Islam saat ini tega-teganya sanggup menumpahkan darah saudaranya sendiri demi pembelaan terhadap kepentingan golongan atau bangsanya. Sebagaimana yang saat ini terjadi, perang Irak, Afghanistan, Pakistan bahkan Mesir yang notabene bertetangga dengan palestina tidak mau membuka gerbang Raffah untuk membantu saudara seimannya yg dibantai pasukan yahudi, demi mempertahankan eksistensi kepentingan nasionalismenya. Naudzubillahiminzalik..
Masih adakah roh syahadatain kaum muslimin saat ini? Atau sudah begitu parahkah kualitas Aqidah kaum muslimin saat ini? Sehingga perjalanan sejarah kaum muslimin saat ini harus ditulis dengan tinta merah. Maka kaum muslimin saat ini harus sadar dan berusaha membentengi diri dari serangan GF ini.
Membentengi GF ini tidak ada jalan lain kaum muslimin harus meniti kembali solusi wahyu bukan solusi raýu dengan kembali pada isyarat Allah dalam firmanNya (QS. 2:208),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara kaffah/keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Kaum muslimin harus berusaha kembali pada ajaranNya secara utuh sesuai dengan kemampuannya, dibawah sistem kepemimpinan Islam itu sendiri yakni sistem Khilafah karna GF ini merupakan serangan dari sistem diluar Islam terhadap sistem Islam. Maka mengadapinya harus dengan sistem Islam itu sendiri yakni sistem Khilafah sebagai wadah pemersatu ummat dan pola dalam mengatur strateginya dibawah satu komando seorang ulil amri yaitu Khalifah / Amirul Mukminin.

Posted in Kajian Utama | Leave a Comment »

Muhasabah Dibalik Bencana

Posted by uqbogor on October 15, 2009

banjir bandang

Kata musibah seringkali diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa. Dan Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya. Ini menunjukkan bahwa di atas segala kekuatan ada kekuatan Allah. Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa. Lalu bertindak seenak nafsunya. Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan. Lebih jauh, setiap musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali Allah. Sebab Dialah memang Pemiliknya. Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini mengabaikan-Nya.

Namun kenyataan sejarah selalu dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang. Manusia yang berani melawan Allah. Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya. Sehingga wahyu yang Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap biasa, padahal Allah melarangnya. Harta haram dibanggakan, padahal itu harta yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.

Ini semua tentu dimurkai oleh Allah. Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia sendiri. Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’aun.

Dari sini kita belajar bahwa bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya. Dan manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan. Jangan ulangi kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan. Maka sebagai makhluk, manusia harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa independen dan menganggap dirinya mampu mengatur kehidupannya sendiri tanpa aturan dan ndang-undang Allah. Segeralah bertaubat, selamatkan kemanusiaan. Hindari mengagungkan kepentingan peribadi di atas kepentingan umum. Karena seringkalai kedzaliman terjadi karena nafsu mendahulukan kepentingan pribadi. Ingat bahwa semakin banyak kedzaliman pasti akan semakin banyak kerusakan di muka bumi. Dan semakin banyak kerusakan, kemaksiatan dan dosa-dosa pasti akan semakin mempercepat turunnya azab Allah swt.

Renungkan ayat berikut (dalam surah Al-Fajr 6-13) Allah menegaskan setelah menyebutkan tiga contoh kaum yang pernah maju dari segi peradaban dunia yaitu: kaum Aad, Tsamud dan Fir’un: Allah berfirman:

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلادِ فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
(mereka telah berbuat kerusakan di negeri mereka, maka menyebarlah kerusakan di negeri tersebut, lalu Allah timpakan adzab yang pedih atas mereka).

Memang tidak semua musibah minimpa orang-orang yang bejat. Ada juga contoh-contoh orang baik yang mendapatkan musibah. Berdasarkan ini tidak semua musibah yang menimpa harus kita pahami sebagai adzab. Setidaknya ada tiga makna di balik setiap musibah yang menimpa manusia: Pertama, bila itu menimpa sekelompok manusia yang semuanya kafir itu adalah adzab, seperti yang Allah timpakan atas kaum Adz, Tsamud dan Fir’un. Kedua, bila ia menimpa sekelompok manusia yang beriman, sebagiannya patuh sementara sebagian yang lain pendosa, itu adalah peringatan, agar tida dilanjutkan dosa-dosa tersebut. Ketiga, bila itu menimpa sekelompok kaum yang shaleh, itu ujian, untuk mencuci dosa-dosanya serta menaikkan derajatnya di dunia dan di surga. Karenanya Allah berfirman: “Wabasysyirish shaabiriin (dan berilah kabar gembira bagi mereka yang sabar).” Maksudnya bahwa syarat untuk lolos dari setiap musibah adalah sabar:  sabar mentaati Allah, sabar menjauhi kemaksiatan dan sabar menjalani ujian-Nya.

Bagaimana dengan musibah dan bencana yang kerap kali terjadi di negeri kita Indonesia ini? Mari kita renungkan kembali apa dan bagaimana fenomena yang terjadi di negeri kita ini. Mulai dari tsunami Aceh yang memakan korban hingga 150ribu jiwa, gempa di Jogja dengan korban jiwa tidak kurang dari 5000, Lumpur Lapindo Brantas yang telah menenggelamkan ribuan rumah disekitarnya, bencana banjir yang menenggelamkan sawah-sawah didaerah pertanian jawa, bencana kekeringan dan kelaparan di wilayah timur Indonesia, kebakaran hutan yang bahkan asapnya sampai ke negeri tetangga, banjir banding jebolnya tanggul Situgintung yang menyeret ribuan rumah dan memakan ratusan korban jiwa, musibah kecelakaan pesawat dan tenggelamnya kapal-kapal laut yang tidak sedikit juga memakan korban, gempa-gempa yang terjadi di beberapa wilayah pulau jawa, tidak ketinggalan Jakarta sebagai kota paling metropolis di negeri ini beberapa waktu lalu diguncang gempa, sampai yg terakhir kemarin terjadi di Padang Sumatra Barat dan Jambi. Belum lagi ancaman gempa yang menurut badan meteorologi dan geofisika sangat mungkin terjadi disepanjang garis lempeng gempa pulau Sumatra dan Jawa. Semua bencana tersebut datangnya tidak terduga, pun kita berupaya keras mengantisipasi resiko kerusakan yang mungkin terjadi, Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Korban jiwa, rusaknya bangunan-bangunan kokoh dan hilangnya harta benda tidak dapat dihindari.

Sungguh dahulu negeri ini adalah negeri yang kaya dan makmur. Tanah yang subur dengan tanaman dan hasil buminya, laut yang luas dengan hasil perikanan yang melimpah, letak geografis di garis khatulistiwa yang menguntungkan negeri ini sebagai negeri beriklim tropis dengan curah hujan cukup dan langit yang cerah. Tapi lihatlah sekarang, apa yang turun dari langit berupa hujan jadi bencana, apa yang keluar dari bumi pun menjadi bencana, iklim sudah tidak lagi bersahabat, laut menenggelamkan kapal, langit menghempaskan pesawat, bumi seperti enggan dipijak. MashaAllah, Ujiankah ini? Atau peringatankah ini? Atau bahkan azabkah ini?

Apa yang mungkin Allah kehendaki bagi negeri ini? Allah berfirman dalam surat Al-A’raaf [7]: 96-100

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَأَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Dari ayat diatas, fenomena dan tanda-tanda bencana yang terjadi sepertinya sudah sangat cocok dengan keadaan negeri kita ini. Bencana yang datangnya tidak terduga, pada malam/subuh dimana kebanyakan orang masi terlelap tidur, atau dipagi hari ketika manusia memulai hari dengan berlomba meraih keuntungan dunia. Sudah cukup rasanya prasyarat bagi Allah untuk menurunkan siksaNya. Pengingkaran dan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah sudah tidak lagi sulit dijumpai di negeri ini, baik dalam kehidupan individu, keluarga, lingkungan masyarakat bahkan dalam bernegara. Sungguh azab itu tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja, maka sudah selayaknya kita tidak merasa aman dari azab Allah bila masih ada pendustaan terhadap ayat-ayat Allah yang terjadi dan kita hanya berdiam diri.

Sungguh Allah itu bagaimana prasangka hambaNya. Maka bersyukurlah kita bahwa Allah masih menurunkan azabNya sebagai indikator bahwa Allah masih memberi kita peringatan dan belum mengunci mati hati kita untuk menerima pelajaran. Semoga kita diberi kekuatan untuk dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua musibah dan bencana yang ditimpakanNya pada negeri ini, untuk kembali kepada Din-Nya hingga turunlah keberkahan Allah dari langit dan bumi. Wallahu a’lam bishshawab.

Posted in Buletin Al-Khilafah | Leave a Comment »

WIHDATUL QIYADAH

Posted by uqbogor on October 12, 2009

WIHDATUL QIYADAH
(MONOLEADERSHIP)

Oleh: Ust. Zulkifli Rahman

gaza2

Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan, Yang menciptakan manusia, mengutus Rasul dan menurunkan Al- Qur’an.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan pada nabi akhir zaman, suri tauladan terbaik bagi semua insan. Beliau telah sampaikan risalah, telah tunaikan amanah dan telah berlaku tulus kepada ummat. Cukuplah beliau menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta senantiasa banyak mengingat Allah, Firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Rasul mulia yang dipuji Allah dengan firmanNya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) sungguh berada dalam kemuliaan akhlaq” (Al-Qolam :4)

Beliau SAW pula bersabda :

“Bahwasannya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq” (HR. Ahmad)

Allah yang Maha kaya dan Maha kuasa mengutus untuk menyampaikan risalahNya seorang Rasul yang miskin yang kemudian sedikitpun tidak terpengaruh oleh tawaran kafir Quraisy untuk menjadikan beliau sebagai seorang terkaya di tanah Arab. Sekiranya tawaran tersebut diterima maka ummatnya di kemudian hari tentulah berkata bahwa untuk menyampaikan dien ini mestilah terlebih dahulu menjadi orang kaya.

Allah yang Maha tinggi ilmuNya meliputi segala yang ghaib maupun yang nyata mengutus untuk menyampaikan risalahNya seorang rasul yang ummiy (buta huruf) yang dikemudian hari tidak tergiur dengan kekuasaan yang ditawarkan oleh kaumnya. Sekiranya tawaran menjadi raja bangsa Arab beliau terima, maka ummatnya di kemudian hari tentu akan berkata “Tidaklah Islam itu dapat ditegakkan kecuali terlebih dahulu harus memiliki dan merebut kekuasaan”.

Allah yang Maha kuasa untuk menghidupkan dan mematikan, yang di tanganNya lah ketentuan nasib dan ajal manusia, mengutus untuk menyampaikan risalahNya seorang yatim piatu dari keturunan mulia yang kemudian tidak terpedaya dengan tawaran wanita cantik untuk ditukarkan dengan kewajiban menegakkan risalah yang beliau emban.

Maha suci Allah yang telah mengutus seorang Rasul pilihan, yang tegar mengayun langkah di atas telapak kakinya sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu jahiliyah. Atas semua tawaran kaumnya beliau hanya menjawab singkat: “Demi Allah wahai pamanku, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku tinggalkan urusan (dien) ini, sedikitpun aku tak hendak melakukannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya”

Maha suci Allah yang ilmuNya meliputi yang dzahir maupun yang bathin, yang dahulu, sekarang dan akan datang, semuanya sudah terangkum dalam kitab yang suci, dalam genggaman Allah yang Maha tinggi lagi Maha bijaksana.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Yaa Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan dan suri tauladan kami Muhammad SAW., para shahabat dan semua yang mengikutinya hingga akhir zaman.

KEPEMIMPINAN ISLAM
(AL – QIYADAH/ AL-IMAMAH)

Allah SWT berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa’ : 59)

Atas dasar ayat ini, sepakat ummat bahwa Islam memerintahkan ketaatan, yang artinya mesti ada yang ditaati di dalam melaksanakan ajaran Islam. Jika ada ketaatan maka mesti ada yang ditaati dan mentaati, artinya ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Maka tidaklah patut ummat melaksanakan ajaran Islam semaunya sendiri tanpa memperdulikan adanya ketaatan seperti yang tercantum dalam ayat di atas. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kepemimpinan itu bermula. Apakah mesti sama persis seperti bermulanya kepemimpinan Islam pada masa Rasulullah (minhaj nubuwwah) atau seperti bermulanya suatu pergantian kepemimpinan para khalifah yang silih berganti sejak meninggalnya baginda Nabi SAW (minhaj khulafa’ur rosyidin).

Salah satu nubuwatnya Rasulullah bahwa pada akhir zaman nanti akan tegak khilafah atas minhaj An-Nubuwwah (HR. Ahmad), bahkan lebih spesifik lagi terdapat dalam suatu riwayat bahwa; munculnya khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah itu pada dekade tahun 1400-an hijriyah, sebagaimana diterangkan oleh Abu Hurairah, dari Ibnu Abbas RA dan Ali Bin Abu Thalib RA, menjelang akhir hayat Abu Hurairoh RA, karena takut menyembunyikan hadits. Dalam riwayat yang panjang lebar tentang perihal yang akan terjadi pada kahir zaman yang sudah diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sabdanya, Abu Hurairah menerangkan: “Hitunglah setelah itu dua atau tiga dekade” artinya antara 20 tahun atau 30 tahun setelah itu. (Keterangan ini terdapat dalam kitab Al-Mahdi Al-Muntadzor ‘alal abwab, hal. 216 yang masih tersimpan rapi di Darul Qutb Al-Islamiyah, Istambul, Turkiy. Maka, sepatutnya kita mulai bergegas menyambut nubuwwat tersebut.

KEPEMIMPINAN, ANTARA KEWAJIBAN DAN PERDEBATAN ORANG-ORANG SEKULER SERTA PENOLAKAN DENGAN BERBAGAI DALIH.

Sejak runtuhnya kekhalifahan Islam (khilafah Utsmaniyah) 82 tahun yang lalu (1924 M) ummat Islam berada dalam keadaan di mana mereka tidak berada dalam satu kepemimpinan (monoleadership). Masing-masing mereka lantas hidup dalam kehinaan, sementara para musuh menggerogoti dari berbagai penjuru, seperti hidangan lezat yang dikerumuni oleh orang-orang yang sedang kelaparan. Mestinya sesegera mungkin ummat ini disadarkan pada suatu kewajiban untuk membentuk satu kepemimpinan tersendiri dalam tubuh ummat Islam yang independen, universal dan legitimet. Namun yang terjadi malah ummat ini justeru berada pada perdebatan sengit yang tak berujung hingga tak kunjung sampai pada pelaksanaan kewajiban mereka.
Beberapa ulama abad ini justeru latah menggunakan dalil Al-Qur’an untuk memerintahkan taat kepada sistim kepemimpinan yang bukan sistim kepemimpinan Islam. Setiap ideologi tentunya memiliki perintah sendiri-sendiri untuk taat pada pemimpin ideologi tersebut. Dalam kitab Injil kita akan mendapatkan perintah untuk mentaati pemimpin, tentu yang dimaksud adalah para Pendeta atau Pastur. Dalam kitab Tripitaka dan Weda kita juga akan menemukan perintah taat kepada pemimpin, tentu kita tahu bahwa yang dimaksud bukan Pendeta atau Pastur. Dalam ideologi Pancasila kita akan temukan kalimat yang berbunyi : “Setiap warga negara wajib taat kepada pemimpin negara”, tentu yang dimaksud bukan pemimpin negara lain, apalagi dengan ideologi negara yang berbeda. Begitu pula dalam sistim kepamimpinan Islam, ketika Allah memerintahkan taat kepada Ulil Amri maka tentunya yang dimaksud adalah Ulil Amri dalam sistim tersebut, yaitu; kholifah/Imam. Meski demikian pada kenyataannya masih saja kita temukan dalil yang salah pasang.

Hal yang demikian terjadi karena sudah sangat lama ummat ini terbiasa hidup tanpa kholifah/Imam.

Kehadiran seorang kholifah/Imam dalam tatanan kehidupan kaum Muslimin memang sudah sangat dirindukan, namun pola pikir ummat dewasa ini telah banyak terkontaminasi oleh berbagai teori yang berasal dari sumber lain, sehingga tak kunjung sampai pada pokok masalah yang sebenarnya.

Banyaknya literatur dan buku-buku ilmiah di berbagai perpustakaan adakalanya justeru mangacu pada justifikasi (pembenaran) kondisi berpecah belahnya ummat Islam, bukannya memberi solusi atas perpecahan yang ada.

Perumpamaan berikut diharapkan dapat membantu menyederhanakan cara berfikir bagi ummat yang benar-benar tulus merindukan tegaknya Qiyadah Islamiyah/ Al-Khilafah.

Ketika suatu kaum dihadapkan pada kewajiban melaksanakan sholat Jum’at, tentu yang pertama kali terfikir adalah bagaimana tuntunan sholat Jum’at di zaman Rasulullah, sehingga sholat Jum’at yang mereka kerjakan benar dan sah adanya.
Unsur yang mesti dipenuhi misalnya; adanya Imam/ khatib, makmum dan tempat sholat. Jika pemikiran ke arah ini dimulai dengan menyebutkan syarat-syarat yang mesti dipenuhi baik oleh Imam/khotib, makmum maupun tempat, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah mungkin sekarang ini kita melaksanakan kewajiban tersebut, karena pintarnya kita menghitung dan mengumpulkan berbagai persyaratan yang ada di otak kita. Padahal kenyataannya sederhana saja, tinggal menunjuk satu orang yang paling dekat dengan kriteria yang diharuskan oleh syar’i kemudian segera melaksanakan kewajiban sesuai kemampuan yang ada sambil berupaya menuju kesempurnaan.

Demikian pula halnya dengan kewajiban berjama’ah dan berkepemimpinan. Adakalanya kita terhenti pada pembahasan tentang syarat dan prasyarat yang pada ujungnya menghambat pelaksanaan kewajiban.

Jika kita sepakat bahwa khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah adalah satu-satunya sistim kepemimpinan yang sah dalam pandangan Islam maka kita akan menilik sejarah bagaimana nubuwwah itu dimulai, karena khilafah yang ada setelah nubuwwah itu juga mengikut kepada perjalanan nubuwwah atau sebagai penerusnya. Yang diramalkan oleh Rasulullah adalah khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah, sementara gambaran ideal yang ada dalam benak kita adalah khilafah ‘alaa minhaajil khulafaaur rasyidin.

Para khulafaaur rasyidin membangun kekhalifahan Islam sebagai wujud penerus dari kepemimpinan sebelumnya, sementara Nabi memulai kepemimpinan beliau dari awwal sejak belum mempunyai apa-apa. Kesederhanaan pola kepemimpinan sebagaimana yang dimulai oleh Rasulullah mestinya membuat kita tidak merasa perlu mencantumkan persyaratan bagi seorang Imam/khalifah yang lebih banyak dari persyaratan bagi seorang Nabi dan Rasul.

KHILAFAH ISLAMIYAH BUKAN NEGARA ISLAM

Seperti kita ketahui bahwa Rasulullah SAW memulai kepemimpinannya bukan dari kekuasaan negara. Kepemimpinan itu dimulai dari ta’liful qulub (penyatuan hati) bukan ta’liful quwwah (penggalangan kekuatan untuk meraih kekuasaan). Rasulullah mulai membai’at dan mewajibkan ketaatan atas kepemimpinan beliau sejak belum mempunyai kekuasaan apapun di Mekkah, maka para sahabat mentaati beliau sebagai pemimpin mereka, bahkan ketaatan yang diberikan oleh para shahabat beliau jauh melebihi ketaatan seorang prajurit atau serdadu bangsa Arab maupun Romawi atau Persi terhadap komandannya. Bagaimana seorang Bilal bin Rabah RA begitu tabahnya menghadapi siksaan Umayyah bin Kholaf, hanya karna budaknya itu punya sisi ketaatan lain yang luar biasa. Dengan keyakinan penuh seorang Amru bin Ash menegaskan di hadapan pemimpin Romawi bahwa ia lebih rela untuk menyerahkan nyawanya daripada membiarkan sebuah duri menusuk kaki Rasulullah, apalagi untuk ditukarkan dengan nyawa Rasulullah , meski ancaman akan penyiksaan terpampang di depan matanya. Suatu bentuk ketaatan yang sangat menakjubkan bagi mereka (bangsa Romawi), yang tentunya tidak pernah mereka temukan sebelumnya.

Bagaimana seorang menjadi begitu taatnya kepada seorang pemimpin padahal tidak ada harta benda yang diharapkan darinya, tidak ada jabatan yang dijanjikan dan tidak ada kekuasaan politik apapun yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Ini tentu hanya ada dalam perspektif Qiyadah Islamiyah.

Sistem kepemimpinan inilah yang pernah ditampilkan oleh Islam, kepemimpinan yang tidak dibatasi oleh teritorial negara, bangsa maupun ras tertentu. Sampai akhirnya orang-orang Yahudi berhasil menanamkan pola fikir bernegara, nasionalisme dan kebangsaan untuk mengkotak-kotakkan ummat Islam sehingga mudah dikuasai.

PEMIMPIN ISLAM BUKAN PENGUASA

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dia lah yang menjadikan kamu para kholifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’am 165)

Kepemimpinan yang ditawarkan oleh Islam adalah suatu bentuk perpanjangan tangan dari Pencipta alam semesta, bukan kekuasaan mutlak seperti monarchi absolut atau kekuasaan raja-raja. Dia hanya wajib ditaati sepanjang masih dalam koridor ketataan kepada Allah SWT artinya sistim Islam memberi peluang kepada ummat yang dipimpin untuk tidak taat kepada pemimpinnya pada batas-batas ketentuan tertentu yang sudah digariskan Allah dan RasulNya. Diriwayatkan dalam shahihaini, beliau SAW pernah bersabda : “Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk untuk perkara maksiyat kepada khaliq”

Seorang pemimpin dalam Islam hanya mempunyai hak sebatas yang diberikan Allah kepadanya untuk mengurus ummatnya tidak lebih dari itu, atau lebih pantas untuk disebut sebagai pelayan ummat.
Ketika Umar bin Khathab memandikan dan membersihkan kudanya dengan tangannya sendiri, seorang tamunya berkata: “Yaa Amirul Mukminin, mengapa engkau tidak menyuruh seorang pelayan untuk melakukan pekerjaan ini?”. Beliau hanya menjawab singkat, “saya ini juga seorang pelayan”.

Jika seorang pemimpin dalam tatanan Qiyadah Islamiyah mengambil lebih dari hak yang diberikan Allah kepadanya atau bahkan berbuat dzalim terhadap ummatnya, maka dia tidak lagi dikategorikan sebagai pemimpin yang baik menurut konsep Islam, tapi lebih tepat untuk disebut sebagai penguasa yang diancam neraka, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di dalam neraka jahannam itu ada sebuah lembah dan di dalam lembah itu ada sebuah sumur yang disebut “Hab-hab”, adalah hak Allah untuk memasukan penguasa jabbaarun ‘anid ke dalamya” (HR. Thabrani).

Sementara surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya dijanjikan Allah bagi pemimpin yang adil (Al-Imaamul ‘aadil), begitu pula baginya dijanjikan naungan pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan Allah (Al- Hadits Muttafaqun ‘alaih).

PENUTUP

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَإِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.(Qs. Huud 118-119)

Mempunyai tuhan yang satu, kitab yang satu, nabi yang satu, kiblat yang sama, tujuan serta cita-cita yang sama ternyata belum menjamin terwujudnya wihdatul ummah jika kita masing-masing punya pemimpin yang berbeda-beda. Secara rasional di dalam suatu Kesatuan apapun bentuknya, tidaklah dapat dikatakan bahwa mereka itu bersatu jika pemimpinnya lebih dari satu.

Mempunyai pemimpin yang satu dalam perspektif yang pernah dicontohkan selama lebih kurang 14 abad dalam sistim Islam, yaitu sistim khilafah Islamiyah adalah wujud keindahan yang sempurna dambaan ummat. Adalah sepatutnyanya kita mengerahkan seluruh potensi yang ada untuk mewujudkan serta memperjuangkannya.

Mempunyai seorang khalifah dengan segenap kekurangannya adalah bentuk paling sederhana dalam melaksanakan taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amri sebagaimana diperintahkan Allah.

Semoga Allah menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang tulus berjuang tanpa pamrih selain berharap ridho dan rahmat Allah semata, dan semoga kita dipandaikan Allah dalam melaksanakan tugas suci li I’laa’I kalimatillaah, amin !

Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar…!!!

Posted in Kajian Utama | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.